Kamis, 08 Oktober 2015

Keindahan Air Terjun Damar Wulan Menarik Kunjungan Puluhan siswa SMA Homeschooling dari Bogor


By. Iwan. Sumbersalak


SUMBERSALAK - Satu lagi kawasan wisata air terjun yang tidak boleh dilupakan kalau berwisata ke Jember Bagian Timur, yaitu air terjun Damar Wulan yang terletak di Dusun Salak, Desa Sumbersalak. Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember. 30 Km Dari pusat Kota jember Ketimur 
Dibandingkan air terjun lainnya Dipulau Jawa, air terjun Damarwulan ini dapat dikatakan memiliki kelebihan sendiri. Perpaduan antara keindahan alam pegunungan dan persawahan  yang indah, sejuk dan asri, dengan kehidupan para petani yang sedang bekerja di sawah. Seperti menjadi obat mujarab bagi jiwa-jiwa yang lelah, setelah sebelumnya terlilit rutinitas pekerjaan
Uniknya, di kawasan air terjun Damar Wulan ini ternyata tidak hanya ada satu air terjun saja, tetapi tiga air terjun sekaligus. Masing-masing air terjun memiliki ketinggian antara 5 meter hingga 30 meter. “Dua diantaranya merupakan air terjun bertingkat (air terjun satu dan dua). Sedangkan satu air terjun lagi letaknya berdampingan dengan air terjun di tingkat paling atas (air terjun kedua), agak tersembunyi di balik tebing,” kata  Moh. Ali, Warga Setempat.
Keunikan air terjun tersebut didengar langsung oleh beberapa siswa yang datang dari Bogor Jawa Barat. Meraka kagum akan lukisan alam yang mereka ketahui dari beberapa media sosial..  tidak butuh lama untuk mengumpulkan beberapa temannya untuk segera mengunjungi sensasi alam yang terdapat di Jember Bagian Timur tersebut. 
“ kami dan teman teman memang sengaja mendatangi air terjun ini mas..,  kami mendapatkan informasi dari beberapa media sosial yang memperlihatkan keindahan Air Terjun tersebut” . Kata salah satu rombongan siswa yang tidak mau disebutkan namanya.
Setelah berbincang beberapa saat perjalan kami lanjutkan kembali dengan berjalan kaki. Medan untuk menuju ke Air Terjun Damar Wulan  bisa dikatakan sedikit sulit sebab perjalanan harus melewati jalan setapak melewati area persawahan yang sangat indah . Akan tetapi banyak hal menarik yang kami temukan dalam perjalanan diantaranya pelajaran untuk tidak menyerah untuk mencapai tujuan. Dan hal terpentingnya adalah bahwa hal tersebut tidak bisa di dapatkan di mall dan hanya bisa di dapatkan di alam. Dari alamlah kami mencoba belajar.
Setelah menempuh perjalan kurang lebih 30 Menit  akhirnya kami sampai di Air Terjun Damar Wulan. Sebuah Lukisan alam yang alami  yang disajikan kepada masyarakat agar manusia tetap bersyukur atas ciptaannya .
Setelah menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk berfoto Selfie  dan mandi  melompat dari tebing layaknya anak  desa yang mandi disungai. 
Perjalanan kami di lanjut ke Air terjun tingkat kedua.. sebuah perjalanan yang sangat melelahkan dikarenakan harus melewati perkebunan Kopi yang begitu menanjak dan menurun. Tak sia sia perjalanan kami ketika sampai di air terjun yang tinggi diapit oleh beberapa tebing curam dan mempesona, yang konon menurut cerita masyarakat bahwa air terjun tersebut di yakini sebagai tempat petilasan damar wulan bahkan ada yang berpendapat bahwa air terjun tersebut merupakan tempat mandi damar wulan sewaktu kecil.
Air terjun yang memiliki ketinggian sekitar 30 Meter tersebut tidak disia siakan oleh rombongan kami untuk mandi dan berfoto selfie. Puas dengan berbagai macam pose foto kami segera kembali ke air terjun ke tiga tersebut dan melanjutkan untuk bertolak untuk kembali. 
Perjalan tidak kalah serunya di banding perjalan menuju Air Terjun Damar Wulan sebab kami kembali melalui rute yang sama. Secara keseluruhan puluhanHomescoolingtrsbtmerasa sangat senang dan puas sebab dengan melakukan hal-hal yang menguras tenaga dan mengeluarkan keringat apalagi di alam bebas rasanya mampu mengurangi beban fikiran yang ada. Dan untuk teman-teman yang ikut serta penulis berpesan bahwa bukan tujuanlah yang membuat sesuatu berharga tapi proses menuju tujuan tersebutlah yang membuatnya menjadi luar biasa.
 
Dan untuk selanjutnya rombongansiswatersebutbersilaturrahmi ke LembagaPendidikan Islam Nuruz Zaman di dusunPaluomboDesaSumbersalak, dan mengunjungi petilasan Damar Wulan yakni sebuah Pohon Besar ( pohon “Godril” atau “trembesi”)  yang kiniberumur ratusan Tahun yang tidak jauh dari Lembaga tersebut. dan kemudian perjalanan kami dilanjutkan ke sebuah Komunitas yakni TANOKER yang terdapat di Kecamatan Ledokombo, Tanoker Merupakan sebuah Komunitas yang bergerak di bidang sosial yang kiprahnya sudah Go International.....  dan merupakan  sebuah tempat di mana pertemuan berbagai kalangan dari berbagai latar belakang golongan, ras, etnis, bangsa dan kelompok budaya, yang memiliki tujuan untuk saling menguatkan demi menciptakan perdamaian, keadilan dan kesejahteraan, khususnya bagi anak-anak.
(Iwan)

Minggu, 04 Oktober 2015

PALOOMBO: tempat Damarwulan dilahirkan

PALOOMBO: tempat Damarwulan dilahirkan
By. Iwan. Sumbersalak 
Paloombo adalah salah satu dusun yang tertelak di desa Sumber Salak, Kecamatan Ledok Ombo, Kabupaten Jember. Ketika kami berkunjung ke dusun tersebut, tidak ada suatu yang istimewa. Dusun ini terletak di ujung sebelah Barat-Selatan (kalau tidak salah) dari desa Sumber Salak. Tidak ada kesulitan untuk menuju dusun ini, karena dusun ini sudah memiliki jalan hot mix sampai ke ujungnya. Namun untuk menuju lokasi situs Paloombo, harus ditempuh dengan jalan kaki kira-kira 500 meter.
Salah Satu situs yang di yakini sebagai tempat damar wulan 
namun yang paling istimewa adalah nama dusun ini, yakni PALOOMBO. Paloombo yang digunakan sebagai nama dusun ini terkesan unik, saya selalu bertanya darimana asal nama dusun ini. karena nama ini adalah nama yang sangat kuno dan penuh berwibawa. Akhirnya kami menemukan penutur sejarah penamaan dusun Paloombo. Lelaki paruh baya bernama Fathur, seorang laki-laki keturunan Madura yang sejak lahir tinggal di dusun Paloombo.
Air Terjun yang di yakini
sebagai tempat bermain damarwulan kecil
Cak Fathur mulai menuturkan, bahwa Paloombo diambil dari nama seorang resi yang bertama di pegunungan Argagiri (argo=gunung, giri=gunung) di wilayah Utara Jember (awas jangan disingkat Jember Utara ya…).
Siapa sebenarnya resi Paloombo. Alkisah, menyebutkan: ketika kerajaan majapahit sedang menemui kejayaan, tersebutlah seorang patih yang cukup terkenal bernama patih Maudoro. Patih Maudoro adalah seorang patih yang sakti mandraguna, dia memiliki seorang istri yang sangat cantik sekali.
Pohon yang dikeramatkan 
Kecantikan istrinya ini menimbulkan rasa kesengsem dari patih yang lain, yakni Patih Logender. Entah dengan dalih apa, tiba-tiba patih Maudoro dipaksa pergi dari kerajaan. Padahal, saat itu si Istri sedang dalam keadaan Hamil. Sebelum pergi, Patih Maudoro berpesan kepada istrinya, agar menyusul ke Gunung ArgoGiri jika diganggu oleh patih Logender. Mengapa ke Argogiri, karena disitulah ada bapaknya patih Maudoro yang berjuluk resi Paloombo.
Air Terjun yang di yakini 
sebagai tempat penyucian pakaian  damar wulan 
Benarlah apa yang diprediksi Patih Maudoro. Setelah ditinggalkan, mulailah Patih Logender melancarkan bujuk-rayu kepada istrinya patih Maudoro. Maka dengan susah payah, perempuan yang sudah hamil tersebut melarikan diri dari kerajaan Majapahit menuju pegunungan Argogiri. Tidak pernah ada catatan,bagaimana susahnya perjalanan menuju pegunungan Argogiri. Yang pasti sangat susah, karena saat itu belum ada taxi (he…he,…).
Sesampainya di Pegunungan Argogiri, lahirlah seorang anak laki-laki yang kelak membawa sejarah dan legenda cerita rakyat bernama: DAMARWULAN. Seorang anak desa yang mampu mengalahkan raja Blambangan: MINAK JINGGO.
Dan sebagai penghormatan atas jasa resi Paloombo, maka diabadikanlah namanya menjadi nama dusun Paloombo.
Saat ini, masih bisa ditemui bekas-bekas padepokan resi Paloombo. Berupa pohon “Godril” atau “trembesi” yang sangat besar. Dibawahnya ada semacam altar keramik yang ada semacam kuburannya.
Menurut orang desa, kenapa dibuat altar keramik, hal itu untuk memberi kenyamanan bagi para pengunjung situs tersebut. Dan orang desa mengerti bahwa tidak ada jasad apapun di bawah kuburan tersebut. Kata orang desa, pada hari-hari tertentu banyak orang berkunjung ke situs tersebut, yang katanya untuk ngalab berkah.

Namun, bagi warga desa keberadaan situs tersebut tidak ada apa-apanya, melainkan hanya soal kesejarahan saja.







 Diambil dari https://rahadialpaluri.wordpress.com

AIR TERJUN DAMAR WULAN

By.  Iwan, Sumbersalak
SUMBERSALAK , diakui atau tidak selalu menyimpan eksotisme alam pemberian yang kuasa. Salah satunya adalah Air Terjun Damarwulan Dalam Bahasa Madura Air Terjun Berarti Antrokan atau Antokan. Kwalitas Air yang sangat amat jernih karena langsung dari sumber mata air yang ada di hulu. Air terjun ini sepanjang musim selalu menyuguhkan atraksi dan pesona yang tiada henti. Jadi sangat sayang jika harus dilewatkan. Sebenarnya air terjun tsbt terdapat  tiga Tingkatan  dengan rute yang sama. Tapi sayangnya yang bisa di jamah oleh manusia  hanya dua tempat, yakni air terjun yang tingkat kedua dan ketiga  Sedangkan Tingkatan yang pertama masih banyaknya rumput rumput liar...dan akan segera di benahi oleh swadaya masyara




kat. Tapi sayang tempat wisata tersebut kurang mendapat perhatian khusus dari pemerintah desa maupun instansi terkait. Dan hanya mengandalkan swadaya masyarakat yang peduli akan destinasi wisata di daerah tersebut....
Lokasinya terletak di Dusun Salak Desa Sumbersalak Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember, 30 KM sebelah Timur dari pusat Perkotaan Kabupaten Jember . Obyek wisata ini tergolong Baru, dan hingga Kini masih dalam tahap Pengelolaan Oleh Swadaya Masyarakat dan Hingga Detik Ini masih sangat alami dan terawat dengan baik .
Singkat Cerita Air Terjun Damar Wulan. Konon, desa tersebut merupakan Kelahiran DAMAR WULAN beliau adalah tokoh sentral cerita di Jawa Timur , seorang anak laki-laki yang kelak membawa sejarah dan legenda cerita. Seorang anak desa yang mampu mengalahkan raja Blambangan: MINAK JINGGO tepatnya di dusun Paluombo Desa Sumbersalak. Hal tersebut dibuktikan dengan keberadaan Situs situs masih terawat dengan baik. Dan  masih bisa ditemui bekas-bekas padepokan resi Paloombo. Berupa pohon “Godril” atau “trembesi” yang sangat besar. Dibawahnya ada semacam altar keramik yang ada semacam kuburannya.
Menurut orang desa, kenapa dibuat altar keramik, hal itu untuk memberi kenyamanan bagi para pengunjung situs tersebut. Dan orang desa mengerti bahwa tidak ada jasad apapun di bawah kuburan tersebut. Kata orang desa, pada hari-hari tertentu banyak orang berkunjung ke situs tersebut, yang katanya untuk ngalab berkah.
Berhubung dengan saling berdekatan Dengan Situs Tersebut maka Air Terjun Tersebut didamai dengan Air Terjun Damar Wulan yang Konon Menurut cerita bahwa disungai tersebut merupakan tempat penyucian pakaian damar wulan semasa kecil dan dipercaya sebagai tempat bemain air damar Wulan sewaktu masih kecil 
sehingga air terjun ini dikenal dengan sebutan Air Terjun Damar Wulan. Konon, setiap waktu tertentu masyarakat sekitar masih sering mendengar suara Anak anak kecil bermain air ditempat tersebut. serta kadang kala terdapat suara suara gamelan yang alunannya sangat merdu . Hiiii…


Cara menuju ke terjun Damarwulan 
Pada saat ini (Oktober 2015) kendaraan umum belum ada yang sampai ke lokasi selain itu kendaraan besar (bus) juga belum bisa. Sehingga jika ingin ke Air Terjun Damar Wulan sebaiknya menggunakan motor atau mobil pribadi saja.
Dari Jember mengikuti jalan Ke Arah Banyuwangi , setelah sampai di Sempolan ikuti jalan ke arah kiri (menuju Ledokombo ). Lalu silakan mencari jalur Kearah Sumbersalak kurang lebih 4,5 kilometer maka anda akan menjumpai papan nama obyek wisata Air Terjun Damar Wulan , kemudian ikutilah petunjuk arah atau bisa bertanya langsung kepada masyarakat sekitar yang mayoritas berbahasa Madura yang  ramah tamah. Disanalah Anda akan melewati dan disuguhkan dengan pemandangan area persawahan  dan percikan air air yang masih jernih dan itulah yang merupakan ciri khas Desa Sumbersalak  (Iwan)
Harga Tiket Sangat Amat Mahal dibagi menjadi beberapa post yakni :
1.    Bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa
2.    Pengunjung wajib menjaga kebersihan
3.    Dilarang berbuat onar
4.    Menjaga ketenangan...agar mahluk yang tak kasap mata gak terusik..... Tapi aman koq....
5.    Dilarang berbuat mesum  hehehehe...... 
6.    Parkir sepeda Kudu Tertib..... tp hati hati2 juga sihhhh karena gak ada Juru Parkirnya


Jumat, 02 Oktober 2015

Wisata Rembangan Jember, Peninggalan Belanda yang Asri

By. Iwan, Sumbersalak Ledokombo




Selain Pantai Papuma, Jember juga memiliki wisata alam dan bangunan yang masih asli peninggalan Belanda, yaitu wisata Rembangan.

Wisata ini merupakan peninggalan yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1937 yang didirikan oleh Mr Hofstide. Bangunan asli yang masih dipertahankan sampai saat ini terdapat pada lantai Restoran, Meja TV dan sebagian dinding kamar penginapan
Dengan dinding berlapiskan kayu Jati serta susunan bebatuan, hotel tersebut nampak menyatu dengan alam. Selain itu, wisatawan juga bisa menikmati pemandangan kota Jember dari tempat wisata yang berada di kaki Gunung Argopuro itu








.

Beberapa fasilitas yang disediakan tempat tersebut, seperti sepeda gunung, berkuda, dan kolam renang anak-anak serta dewasa. Air kolam renang di tempat ini, dialirkan langsung dari sumber mata air pegunungan. "Air kolamnya langsung dari sumber mata air pegunungan, cuma dikasih kaporit secukupnya untuk membunuh kuman," ungkap Andrie, Sabtu (7/2/2015).

Minuman Jahe hangat dengan tambahan gula merah, semakin menghangatkan tubuh wisatawan yang kedinginan karena udara malamnya. Jalanan beraspal yang diiringi baris pepohonan duren serta buah naga yang menjadi khas daerah ini, membuat pengunjung semakin nyaman dalam perjalanan. Tidak heran jika para tamu memilih tempat ini untuk melepas rasa penat dan berlibur bersama keluarga. (Iwan)

TANJUNG PAPUMA - eksotisme Batu Katak Raksasa dan Jubelan Batu karangnya

  

By. Iwan, Sumbersalak

Catatan Perjalanan Wisata Pantai Tanjung Papuma, Jember. Nama pantai ini dari dulu membuatku ingin segera berlibur kesana, namun baru pada Oktober 2013 ini, impian kecilku ini terwujud. Perjalanan dimulai dari Surabaya pada jam 06.00 WIB, perkiraan sampai di Pantai Papuma sekitar jam 11 siang. 

Pantai Tanjung Papuma (Pasir Putih Malikan) berada di Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan Jember, sekitar 45 km dari pusat kota Jember, merupakan objek wisata yang paling terkenal di Kabupaten Jember karena keindahan pantainya dengan pasir putihnya yang bersih dan batu karang raksasa yang eksotis yang menghiasi pantai tersebut. Jarak tempuh dari kota Pusat Kota Jember  sekitar 1 - 2 jam perjalanan darat.

Sebenarnya aku belum pernah sekalipun pantai yang terkenal dengan banyak Mitos itu. Namun tetap saja berbekal nekat dan tanya sana tanya sini pada tiap orang di jalan, akupun dengan percaya diri menuju ke Pantai Tanjung Papuma. Perjalanan dimulai dengan menyusuri beberapa kecamatan yang saya lintasi .

Memasuki Kecamatan Ambulu, ada sebuah petunjuk jalan yang menunjukkan arah ke Pantai Watu Ulo dan Papuma, aku pun mengambil jalan Lurus seperti petunjuk tersebut. Setelah itu, perjalanan berlanjut menembus Jalan Desa tepat pukul Pukul 09.30, akhirnya aku sampai di desa tersebut Disini aku sempat berhenti untuk menikmati segarnya es dawet hijau yang begitu menggoda, harganya sangat murah cuma 2 ribu perak.

Setelah puas menikmati es dawet dan ketan hitamnya, perjalanan aku lanjutkan. Akhirnya aku memasuki hutan jati yang menandakan tidak lama lagi akan sampai di Pantai Papuma. Sebagian besar pohon-pohon jati di hutan ini daunnya pada rontok mungkin karena musim kemarau yang begitu panjang tahun ini.


Tepat pukul 11.30 WIB akhirnya aku sampai juga di pintu masuk Pantai Tanjung Papuma. Butuh 1 jam perjalanan dari pusat kota Jember menuju Pantai Papuma di Jember ini. Tiket masuk wisata Pantai Papuma ini sebesar Rp 10 ribu per orang. Dengan tiket masuk yang lumayan mahal tersebut, harusnya Pantai Papuma ini tidak mengecewakan.

Tak percuma aku membayar tiket tersebut. Di tengah perjalanan aku sempat berhenti dan melihat Pantai Papuma dari atas bukit, sungguh pemandangan yang sangat indah. Jejeran perahu nelayan yang bersandar, pasir putih yang begitu menyejukkan mata dan kemegahan batu karang raksasa di ujung pantai menjadi perpaduan yang sangat manis dan indah tentunya.

Tak sabar ingin menginjakkan kaki di pasir putihnya, aku pun langsung meluncur ke tempat tujuan. Ternyata di pantai sudah banyak wisatawan yang datang. Mereka kebanyakan datang menggunakan mobil pribadi daripada motor. Itu terlihat dari jumlah mobil yang terparkir disana. Di Pantai Papuma ini tersedia tempat parkir khusus mobil, namun bila pengunjung ingin memarkir di dekat pantai juga dipersilakan. Namun untuk motor, pihak pengelola tidak menyediakan parkir khusus, motor dapat diparkir di dekat pantai dan harus dikunci dobel untuk menjaga keamanan.


 Saatnya berkeliling Pantai Papuma yang indah ini. Di sisi paling kiri pantai dibatasi oleh tebing karang yang cukup tinggi. Di sebelahnya terdapat sebuah wihara yang berwarna merah yang bentuk bangunannya sangat indah. Sayang aku gak bisa masuk kesana, karena pagarnya dikunci.


Berjalan menyusuri pantai dengan pasir yang putih dan air yang jernih memang sangat menyenangkan meskipun saat itu matahari sedang terik-teriknya. Di tepi laut berjejer belasan perahu nelayan yang sedang bersandar. Bentuk perahu-perahu ini cukup unik dan ukurannya pun cukup besar. Perahu-perahu ini seperti menghiasi laut Papuma yang biru dan cantik.

Banyak pengunjung yang bermain air dan pasir di pantai ini. Kebanyakan mereka adalah rombongan sebuah keluarga ataupun sepasang kekasih. Panjang Pantai Papuma ini sekitar 1 kilometer dengan hamparan pasir putih yang menggoda. Di tengah laut terlihat dua batu karang besar yang berbentuk seperti tikus dan katak. Bentuk tikusnya jelas sangat kelihatan dengan moncong hidung serta matanya.

Berjalan ke sisi paling kanan terdapat ikon Pantai Papuma yaitu batu karang raksasa yang berdiri dengan kokohnya. Tinggi batu karang raksasa ini sekitar 25 meter. Karena merupakan ikonnya Pantai Papuma, banyak yang mengambil gambar di lokasi ini. Memang batu karang raksasa ini membuat Pantai Papuma semakin menarik dan eksotis. Sama dengan sisi sebelah kirinya, di sisi kanan Pantai Papuma juga dibatasi oleh tebing karang yang tinggi.

Tak lengkap rasanya kalau ke Pantai Papuma tanpa berfoto di depan karang raksasa ini. Sebenarnya batu karang yang berdiri megah ini ada 2 buah, tapi yang kelihatan dari pantai cuma 1. Untuk melihat batu karang raksasa yang lain pengunjung harus menaiki tebing karang di sisi kanan pantai yang sudah diberi fasilitas berupa tangga beton.

Di Pantai Papuma ini juga terdapat sebuah pos pantau tempat tim penyelamat (life guard) Pantai Papuma berada letaknya tak jauh dari batu karang besar tersebut. Jadi pantai ini cukup aman bagi anak-anak selama mematuhi peraturan yang ada.

Karena ingin melihat batu karang yang lain, aku pun menaiki tangga beton yang berada di tebing di sebelah pos pantau. Dari atas tebing ini pemandangannya tak kalah indah. Ternyata batu karang yang tersembunyi ini bentuknya lebih besar dan lebih bagus, cocok banget dijadikan objek foto. Di atas tebing tersebut terdapat sebuah gazebo yang biasa digunakan sebagai tempat berteduh.

Setelah puas berfoto-foto di atas tebing, aku pun turun untuk berkeliling di area yang lain. Selama di Pantai Papuma, kamu tak perlu kuatir soal makanan dan minuman. Tersedia puluhan warung makanan yang siap melayani kamu dengan menu-menu spesial khususnya menu seafood dan es kelapa muda. Makan siang dengan menu ikan bakar dan es kelapa muda di tepi pantai yang indah merupakan momen-momen yang tak terlupakan.

Untuk fasilitas, Pantai Papuma bisa dibilang sudah lengkap. Selain warung makan terdapat juga toilet, mushola, penginapan, dan sarana bermain anak-anak. Saat aku kesana ada juga beberapa tenda yang berdiri di pinggir pantai yang kemungkinan milik pengelola setempat dan disewakan pada pengunjung.

Selain keindahan alamnya, di pantai ini juga hidup beberapa ekor kera yang bergelantungan di pohon, sesekali kera-kera itu turun ke tanah untuk mencari makanan, sisa dari pengunjung. Terlihat kera hitam dan coklat yang ada di pantai ini. Setelah puas menikmati Pantai Papuma yang begitu eksotis dengan batu karangnya, aku melanjutkan perjalanan ke Pantai Watu Ulo yang letaknya bersebelahan dengan Pantai Papuma. Ditunggu ya postingan selanjutnya.

By. Iwan (Sumbersalak Ledokombo)

Selasa, 14 Juli 2015

Ayo Nikmati Keeksotisan Pantai Payangan di Jember Jawa Timur


Bukit Zamboja Payangan, Jember
Ayo Nikmati Keeksotisan Pantai Payangan di Jember Jawa Timur. Para Penelusur pasti sering kan kepantai?, tapi pernah belum pantai yang cukup terkenal djember ini?, yaitu pantai Payangan. Pantai Payangan terletak di dusun Payangan desa Semberejo kecamatan Ambulu Jember Jawa Timur. Pantai ini mempunyai 4 pantai, 3 bukit dan 1 pulau.

 

Para Penelusur tau ga?, ternyata pantai ini merupakan pantai nelayan lho, sehingga Para Penelusur lain yang datang kesini relatif sepi. Di Pantai Payangan ini juga bisa membeli hasil tangkapan nelayan secara langsung dan setiap pagi Para Penelusur dapat melihat aktivitas para nelayan yang pulang dari melaut dengan membawa hasil tangkapannya. Pantai Payangan memiliki hamparan pasir hitam yang diselingi beberapa rumput yang tumbuh di pinggir pantainya dan yang ingin berburu sunset atau sunrise, Pantai Payangan ini sangat cocok. Para Penelusur juga dapat mendirikan perkemahan dipantai ini. Selain itu, para penduduk disekitar pantai juga ramah-ramah.\

Untuk rute perjalanan, Para Penelusur dapat melalui rute dari kota ikuti petunjuk ke Ambulu. Sampai di perempatan Ambulu arahkan ke selatan mengikuti petunjuk ke Watu Ulo. Dari sini tinggal ngikuti jalan sampai mentok maka sampai di pantai Payangan. Para Penelusur yang ingin datang kesini pasti akan dikejutkan dengan 3 pantai yang ada, yaitu pantai yang berada di utara memiliki bibir pantai yang melengkung dengan pasir hitam, disisi tengah mempunyai pantai dengan bebatuan cantik dan disisi selatan terhampar sabana dan tempat parkir perahu-perahu nelayan Payangan yang berjejer dengan rapi.
Para Penelusur yang ingin bertelusur di Pantai Payangan jangan khawatir, karena disini juga disediakan berbagai fasilitas seperti, toilet, tempat Parkir Motor/Mobil, Camping Ground (sabana di sisi selatan) dan warung-warung warga yang menyediakan makanan, dll. Serta biaya parkir senilai Rp.3500 untuk motor dan Rp.5000 untuk mobil (harga sewaktu-waktu berubah). Pantai Payangan bisa ditempuh menggunakan kendaraan pribadi motor ataupun mobil. Namun untuk Anda yang suka bepergian dengan berjalan kaki atau menggunakan angkutan umum, Payangan hanya bisa di akses menggunakan Ojek, karena belum ada angkutan yang melayani rute ke Payangan, tapi dengan keramahan masyarakat Ambulu kita bisa menumpang pada kendaraan yang melewati jalur menuju payangan hingga tiba di pantai ini.



Ayo tunggu apa lagi?, buruan telusuri Pantai Payangan ini, tapi tetap harus jaga kebersihan ya. Berikut beberapa gambar khusus untuk Para Penelusur.

Buat Para Penelusur, jika kalian suka dengan artikel ini tolong kasih comment dan share ya siapa tau teman-temanmu belum tau tempat wisata ini,sekalian membantu memajukan pariwisata indonesia :)
Bagaimana? tertarik untuk liburan di Pantai Payangan di Jember Jawa Timur yang unik ini?
Ayo ajak keluarga, teman, pacar, atau siapalah untuk kesini!!
we will back

Senin, 13 Oktober 2014

XPDC BROMO III : TERSESAT DI PASIR BERBISIK



Kalo mo jalan-jalan ke Bromo naik motor, saran saya…. Jangan pakai motor matic. Bisa-bisa, motor Anda turun mesin sepulang dari sana. Hihihi…
persiapan Pemberangkatan

Well, sebenarnya sudah lama saya ingin posting pengalaman saya touring ke Bromo ini. Tapi, yaaaaaa… Baru mood sekarang-sekarang ini. Jadi, baca dan simak aja ya… Siapa tahu bisa jadi rujukan kalo mau touring naik motor dari Jember ke Gunung Bromo .
Jujur saja, ini adalah pengalaman ketiga  saya menuju Gunung yang kata orang eksotis itu. Memang benar kata orang orang klo ke bromo gak bakalan Bosan apalagi garing  . saya mendapatkan banyak cara menuju  Gunung Bromo. Salah satu jalur yang juga menjadi anjuran dari teman yang sudah berulang kali kesana adalah lewat Lumajang kemudian menuju Kabupaten Probolinggo  Alasannya karena jalurnya lebih ‘jinak’ dan karena saya berangkat berdua sama si Adi Umar . yang laennya udah berangkat lebih pagi.... Hihihi…
Hmmmm…Let’s start the adventure…!
Sabtu, 29 Juni 2013. Kita berdua berangkat pukul 15.00 Dari rumah, saya mengenakan jaket, masker, dan membawa ransel yang berisi beberapa kaos, sarung tangan, charger, dan sleeping bag. Perbekalan itu, saya rasa cukup untuk menghalau hawa dingin di Bromo. Dengan mengucap basmalah, do’a keluar rumah, do’a naik kendaraan, dan tak lupa motor diisi Full Bensine 
Jalan ke Penanjakan
Perjalanan agak menyesakkan dada; udara yang panas, monoton, dan lalin yang lumayan padat. Pukul 14.00 saya memutuskan untuk beristirahat sambil mencari pelepas dahaga di sebuah minimarket retail di daerah Probolinggo  Memakan makanan ringan, meminum sebotol minuman vitamin, sambil meluruskan kaki, itu yang saya lakukan. Sekira 15 menit kemudian, saya bawa  sepeda perjuangan kembali melaju di jalanan.
Sekitar setengah jam berikutnya, saya menemukan petunjuk jalan ke arah kanan bertuliskan “Wisata Bromo”. Ada perasaan lega bercampur haruecieeeeeee menelisik di dalam dada. Bromoooo.. Finally, I come…
Makan gak makan asal kumpul... kelaparan tengah malam
Jam yang melingkar di tangan saya menunjukkan angka 17.00 saat Sepeda Perjuangan  membelok ke arah itu. Jalanan yang tadinya padat berubah jadi sangat lengang. Jarang sekali kendaraan yang lewat. Merasa sanksi dengan pilihan jalur tersebut, saya berhenti di depan sebuah rumah untuk bertanya apakah jalur yang saya ambil benar-benar menuju ke Gunung Bromo. Dan pria berbadan tambun yang saya temui disana mengatakan, “Iya, benar. Ikuti saja jalan ini.” Mendengar jawaban itu, hati saya lega seketika.
kamipun melaju melanjutkan perjalanan.
Jalan yang kami lewati semakin lama semakin menanjak. Gigi 2 yang saya pakai tidak mampu mengalahkan tajamnya tanjakan. Sesuatu banget saat sepeda perjuangan mulai meraung mbrebet minta ganti persneling. Antara khawatir dan yakin bahwa si Jingga tak mampu menaklukkan tajamnya tanjakan, saya tetap menggeber si Jingga untuk terus berjalan. Mulut ini tak henti berdzikir untuk menenangkan hati yang bimbang.
Suasana Di cemoro lawang
Alam pemandangan pun semakin lama tersaji semakin indah. Kabut yang mulai turun membuat view yang tertangkap oleh mata juga semakin menawan. Saya agak heran dengan ladang yang dibuat penduduk desa. Lereng yang tajam sekali pun bisa ditanami. Otak saya berputar memikirkan bagaimana cara mereka bercocok tanam dengan lahan yang demikian curam? Koq gak gelundung, ya? Hmmm… Entahlah…
Hawa dingin ikut-ikutan semakin menusuk tulang. Jemari saya seakan membeku merasakan suhu udara di sekitar. Tiba di Desa Sukapura, saya ditawari penginapan oleh orang-orang di pinggir jalan. Mereka menawarkan harga sewa kamar semalam sebesar Rp 100.000. Kalau naik lagi, belum tentu dapat penginapan disana. Karena menurut mereka malam ini ramai sekali tamu yang datang.
Ok… Saya terima informasi itu. Tapi saya tak suka ‘berhenti sebelum mencoba.’ Maka saya ajak sepeda perjuangan untuk melaju lebih keatas lagi. Dalam pikiran saya, kalau tak dapat penginapan diatas, saya akan turun sampai Desa terdekat. Apa susahnya..?
Pukul 18.30 an, saya tiba di loket masuk obyek wisata Gunung Bromo. Satu motor dengan satu penumpang plus asuransi, dihargai kalau tidak salah Rp 18.000.
Hawa dingin, perasaan cemas, khawatir, capek, semuanya terbayar saat saya menyaksikan sunset dari atas Bromo. Subhanallaah… Indaaaaaah… Tapi saya lupa mengambil foto karena terlalu kagum dengan keindahan alamnya.
Sunsite mataharinya mau bobok



Tak lama kemudian matahari sudah tak lagi terlihat, tapi saya sedikitpun tak mendengar suara Adzan isyak  disana. Hmmm… Saya ingat bahwa mayoritas penduduknya beragama Hindu. Pantas saja, tak ada musholla apalagi masjid yang mengumandangkan Adzan. Sebab itu juga lah, saya putuskan untuk segera mencari Musholla  agar  segera melaksanakan Sholat. dan musholla tersebut ku temui di Hotel disekitar Cemoro Lawang. 
Nah, saat saya akan beranjak dari tempat saya menyaksikan sunset, saya dihampiri oleh seorang penjual topi yang -maaf- bermata strabismus. Dia menawarkan kamar dengan harga Rp 150.000 kepada saya. Dengan beberapa pertimbangan, saya tidak menghiraukan tawaran tersebut. Karena teman teman kami sudah menunggu berjam jam untuk menunngu kedatangan kami....


Hari sudah mulai gelap gulita tidak ada suara kendaraan yang menyalip maupun yang melewati rute yang kami tempuh Dengan modal nekat kami turun untuk menuju gurun pasir safana yang begitu amat sangad luas... begitu sampai du gurun pasir kami tidak menemukan camp tempat teman teman kami mendirikan tenda  sehingga kami tersesat di gurun Pasir tersebut ..
Beruntung persedian baterai di HP masih full sehingga kami menelpon salah satu teman kami yang amat jauh dari kami. Bayang kan aja kami tersesat jauh di gurun tersebut. Klau gak salah teman teman kami ngcamp di area baratnya gunung batok atau arah menuju ke penanjakan. Dan kami berada di sebelah timur gunung bromo atau lebih dekat dengan bukit Telletubis atau arah ke Puncak B29..... Cukup Jauh Bukan....???
Setelah kami menghubungi teman kami akhirnya kamipun menuju ke arah barat atau lebih tepatnya jalan menuju bukit pananjakan.
Dengan bermodalkan senter di hp akhirnya kami menemukan beberapa teman kami yang sudah sejak siang mendirikan tenda untuk menginap... disitulah keceriaan dan canda tawa sudah dimulai dan tak lupa Api Unggun sudah dinyalakan sejak awal karena hawa dingin sudah menyerang rombongan kami..... 
Ahad, 30 Juni 2012, jam 02.00... kami  sepakat untuk melanjutkan perjalanan kami yakni ke pananjakan.... dengan bermodal Bismillah dan Bondo nekat kami berangkat ke pananjakan. Tp alangkah terkejut ketika kami akan berangkat kami melihat Tulisan sebelum jalan menanjak yang bertuliskan Wajib Menggunakan Perseneleng Gigi satu dan untuk kendaraan bermotor dianjurkan tidak berboncengan karena Track yang akan di lewati sangat curam dan menantang....!!!
matahari Terbit di Bukit pananjakan
Tapi Tulisan tersebut kami lewati dan melangsungkan perjalanan kami ke tujuan... ternyata benar di papan pengumuman tersebut. Kami harus melewati beberapa tanjakan yang harus kami lalui. Al hasil banyak kendaraan yang mogok karena tidak kuat untuk berboncengan... bahkan tidak sedikit dari beberapa teman saya untuk turun dari motornya dab mendorongnya hingga menemukan jalan  yang tidak begitu menanjak....
Bahkan  salah satu motor teman kami ban sepedanya ada yang bocor. Dengan amat terpaksa sepeda tersebut tepat di kendarai hingga samapi di tujuan yakni pananjakan.
Tepat pukul. 03.30 kami dan rombongan sudah sampai di lataran parkiran Penanjakan di butuhkan kurang lebih 100 meter untuk sampai lokasi penanjakan deangan berjalan kaki
kesempatan dalam kesempitan...... kameramennya mana....!
Sambil menunggu terbitnya matahari waktu tersebut kami gunakan untuk istirahat dan bercanda hingga sunrise terbit
Puas melihat sunrise dari atas Penanjakan, kami dan rombongan  turun kembali melalui jalur yang sama. Saya hanya berani pakai gigi 1, karena curamnya turunan. Sampai-sampai saya membayangkan kira-kira, ada tifak ya, yang terjungkal atau meninggal saat menuruni bukit itu? Hiiii… sereeeem…
Tiba di lautan pasir lagi, saya menyempatkan diri untuk foto fiti sebelum menuju kawah Bromo. Ternyata, lautan pasir itu dingiiiiiin, lho… Hihi…
Kawah Gunung Bromo
Ngomong-ngomong… Di samping kawah Bromo, ada sebuah Pura. Tapi saya tidak berkeinginan untuk mampir atau sekadar mengambil foto di Pura itu. Pura Bromo tak menarik perhatian saya sama sekali. Fokus saya cuma satu, kawah gunung Bromo. Dan berencana akan ambil foto di pura tersebut nanti ketika kami akan pulang
Setalah sampai di tempat parkir kendaraan yang kami gunakan  parkir motor di samping kawah. Tarif parkirnya Rp 5.000. Setelah merasa aman dengan, saya menaiki 1000 tangga yang mengantar para turis mendekati kawah gunung Bromo. Ternyata jumlah 1000 tangga itu hanya 239 anak tangga saja tak sampai 1000. Saya iseng menghitung jumlahnya sambil menunggu giliran berjalan. 
nah.... sesampai di kawasan puncak gunung Bromo, kami dan kawan kawan tidak menyia nyiakan kesempatan untuk mensyukuri Lukisan alan yang di ciptakan Ilahi untuk disajikan kepada umat manusia dengan tujuan agar selalu bersyukur mengafumi ciptaannya... Ceramah dikit ..... hehehehehehe............ 


selanjutnya kita mengambil gambar kawan kawan dengan berbagai pose ada yang berpose seperti katak, lumba2 dll Pokkoke narsi sarsis semua dech......  
Tak terasa kita udah berjam jam di atas gunung bromo, puas dengan foto2an, kami pun memutuskan untuk turun gunung dengan melewati tangga yang telah kita lewati. 
tangga Menuju kawah

Sebelum Turun Actions Dulu Broooo......
setelah berjam jam di kawasan gunung Bromo akhirnya kawan kawan seoakat untuk Pulang je jember karena jam sudah menunjukkan hampir jam 12.00 Siang... mau tidak mau kami harus pulang karena keesokan harinya seabreeeeeeeeeeeeekkkkkk rutinitas telah menunggu kami..... 


Bersambung ke XPDC BROMO IV  Selanjutnya (Masih Belum ada Judul)